BENGKULU – Literasi tidak sekadar kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi menjadi fondasi penting dalam membentuk pola pikir, karakter, kemampuan berpikir kritis, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Bengkulu, H. Meri Sasdi, M.Pd, menegaskan bahwa peningkatan literasi memiliki hubungan erat dengan penguatan karakter masyarakat.

Menurutnya, masyarakat yang memiliki kemampuan literasi yang baik akan lebih mampu memahami informasi, memilah berbagai sumber pengetahuan, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar.

“Literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga melibatkan pengolahan informasi yang mendukung pembentukan karakter kuat dan keterampilan kritis,” ujar H. Meri Sasdi.

Ia menjelaskan, kemampuan literasi menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi informasi yang berlangsung sangat cepat. Masyarakat saat ini berhadapan dengan arus informasi yang nyaris tidak terbatas, mulai dari media sosial, portal berita, konten digital hingga perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Di satu sisi, perkembangan teknologi memberikan kemudahan masyarakat dalam mendapatkan informasi. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama dalam mempertahankan budaya membaca secara mendalam.

Perkembangan AI dan semakin populernya konten video menjadi tantangan tersendiri dalam meningkatkan budaya baca, khususnya di kalangan anak-anak dan pelajar.

Informasi kini dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Berbagai platform digital juga menawarkan konten singkat yang mudah dikonsumsi tanpa membutuhkan waktu lama untuk membaca dan memahami informasi secara mendalam.

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat membuat sebagian masyarakat, terutama generasi muda, semakin terbiasa menerima informasi secara instan.

Padahal, membaca membutuhkan proses. Melalui aktivitas membaca, seseorang tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga dilatih untuk memahami konteks, menghubungkan berbagai gagasan, menganalisis informasi, serta membangun kemampuan berpikir kritis.

Karena itu, perkembangan teknologi tidak semestinya dipandang sebagai musuh gerakan literasi. Sebaliknya, teknologi harus dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkuat budaya literasi.

Tantangannya adalah bagaimana membuat membaca tetap menarik dan relevan bagi generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital.

Meri Sasdi menilai, budaya membaca yang kuat dapat menjadi salah satu bagian penting dalam membangun karakter masyarakat.

Dengan membaca, seseorang mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. Berbagai bacaan juga dapat memperkenalkan nilai-nilai kehidupan, budaya, sejarah, ilmu pengetahuan, hingga pengalaman manusia dari berbagai latar belakang.

Karena itu, literasi tidak dapat hanya ditempatkan sebagai kegiatan pendidikan di sekolah. Literasi harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Perpustakaan memiliki peran strategis untuk menghadirkan ruang belajar sekaligus ruang interaksi masyarakat.

Perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan dan meminjam buku. Perpustakaan harus mampu menjadi pusat pengetahuan, tempat masyarakat mendapatkan informasi, mengembangkan keterampilan, berdiskusi dan menumbuhkan kreativitas.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Bengkulu terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Upaya tersebut dilakukan dengan mendorong hadirnya program-program literasi yang lebih menarik dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Pendekatan terhadap generasi muda juga perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Anak-anak dan pelajar tidak cukup hanya diajak datang ke perpustakaan untuk membaca buku, tetapi perlu diberikan pengalaman yang membuat mereka merasa bahwa perpustakaan merupakan tempat yang menyenangkan untuk belajar dan menemukan pengetahuan.

Berbagai kegiatan literasi dapat dikembangkan melalui aktivitas membaca, diskusi, kegiatan kreatif, pengenalan buku, komunitas literasi serta pemanfaatan teknologi digital.

Dengan demikian, perpustakaan dapat menjadi ruang yang mampu mempertemukan budaya membaca dengan perkembangan teknologi.

Meri Sasdi menegaskan bahwa tantangan literasi pada masa kini memang berbeda dengan masa sebelumnya.

Jika dahulu tantangan utama adalah keterbatasan akses terhadap buku dan informasi, kini masyarakat justru menghadapi banjir informasi.

Informasi begitu mudah ditemukan, tetapi persoalannya adalah kemampuan untuk memilih, memahami dan memastikan kebenaran informasi tersebut.

Dalam kondisi seperti ini, kemampuan literasi menjadi semakin penting.

Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dan keliru, memahami sumber informasi, serta tidak mudah menerima dan menyebarkan informasi tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.

Terlebih bagi anak-anak dan pelajar yang menjadi generasi penerus bangsa. Kemampuan literasi sejak dini akan menjadi bekal penting untuk menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan dunia yang semakin cepat.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Bengkulu berupaya agar gerakan literasi tidak berhenti pada slogan, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan di tengah masyarakat.

Meningkatkan minat baca memang bukan pekerjaan yang dapat dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan gerakan yang berkelanjutan, dukungan keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah.

Orang tua juga memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan membaca di rumah. Begitu pula sekolah yang dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendorong siswa untuk membaca dan berdiskusi.

Sementara pemerintah melalui perpustakaan memiliki tanggung jawab menyediakan akses terhadap bahan bacaan dan menghadirkan berbagai kegiatan yang mampu menarik masyarakat untuk datang serta memanfaatkan perpustakaan.

Di tengah derasnya perkembangan AI dan konten video, budaya membaca justru perlu diperkuat. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperluas akses pengetahuan, bukan membuat masyarakat kehilangan kebiasaan membaca.

Melalui berbagai program dan inovasi literasi, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Bengkulu terus mendorong agar masyarakat kembali menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sebab, masyarakat yang gemar membaca bukan hanya masyarakat yang memiliki banyak pengetahuan, tetapi juga masyarakat yang memiliki kesempatan lebih besar untuk berpikir kritis, memahami perubahan zaman dan membangun karakter yang kuat.

Pada akhirnya, membangun budaya literasi berarti membangun manusia. Dan membangun manusia berarti mempersiapkan Bengkulu menghadapi masa depan yang semakin penuh tantangan.

 

(Ali)